Jejak Api Menyambut Tahun Baru Saka

Kalau kamu pernah berada di Bali sehari sebelum Nyepi, kamu pasti tahu, malam itu bukan malam biasa. Jalanan yang biasanya tenang berubah menjadi lautan manusia, suara gamelan bertalu-talu, obor menyala, dan sosok raksasa berwajah garang diarak keliling desa. Inilah malam Ogoh-Ogoh, ritual yang menjadi jembatan antara riuh dan hening.

Tradisi ini erat kaitannya dengan Hari Raya Nyepi dalam kalender Tahun Baru Saka umat Hindu. Namun, menariknya, parade Ogoh-Ogoh sendiri bukan tradisi kuno berusia ratusan tahun. Bentuk modernnya mulai populer sekitar tahun 1980-an, ketika masyarakat Bali, khususnya para pemuda banjar, mengemas ritual pengusiran roh jahat dalam bentuk patung raksasa yang diarak secara massal. Sejak saat itu, Ogoh-Ogoh menjadi simbol visual paling ikonik menjelang Nyepi.

Secara filosofis, Ogoh-Ogoh merepresentasikan Bhuta Kala, energi negatif atau sifat buruk dalam diri manusia seperti amarah, keserakahan, dan ego. Dalam ajaran Hindu Bali, keseimbangan antara kebaikan (Dharma) dan keburukan (Adharma) harus dijaga. Maka, sebelum memasuki hari suci Nyepi yang penuh refleksi, segala energi negatif “ditampilkan“ terlebih dahulu, lalu dimusnahkan melalui pembakaran.

Awalnya, patung-patung ini dibuat sederhana menggunakan bambu dan kertas. Namun seiring waktu, kreativitas generasi muda Bali berkembang pesat. Kini Ogoh-Ogoh bisa setinggi beberapa meter, lengkap dengan detail ekspresi wajah, efek cahaya, bahkan sistem mekanik yang membuatnya bisa bergerak. Beberapa komunitas bahkan mengangkat isu sosial modern, dari lingkungan sosial ke dalam desain Ogoh-Ogoh mereka.

Yang membuat Ogoh-Ogoh begitu magis bukan hanya visualnya, tapi atmosfernya. Dentuman gamelan yang ritmis, sorakan warga, bau asap obor, hingga energi kolektif ribuan orang yang berkumpul di satu titik. Ada rasa euforia, tapi juga kesadaran bahwa ini adalah pelepasan terakhir sebelum esok hari Bali benar-benar diam.

Keesokan harinya, saat Nyepi tiba, semuanya berubah. Bandara tutup, lampu dipadamkan, jalanan kosong. Dari riuh yang penuh warna, Bali masuk ke sunyi yang total. Kontras inilah yang membuat Ogoh-Ogoh terasa semakin bermakna ia bukan sekadar pesta, melainkan transisi spiritual.

Become BATIQAONE now!

BATIQA Hotels
Share this:

BACA LAINNYA

TEMUKAN LEBIH BANYAK CERITA & PANDUAN MENARIK
Kuliner Makanan Khas Cirebon yang Perlu Kalian Coba Empal Gentong
Empal gentong, kuliner khas Cirebon yang terdiri dari usus, babat, dan irisan daging sapi ini tampilannya mirip dengan gulai.
BACA DETIL
BATIQA Hotels Diakui Perusahaan Teknologi Terkemuka atas Kinerja Websitenya!
BATIQA Hotels telah mendapatkan penghargaan bergengsi Top 2023 Website Performance dari sebuah perusahaan teknologi terkemuka dalam industri perhotelan, kategori grup hotel ekonomi.
BACA DETIL
Suku Jawa: Warisan Budaya yang Mengakar dan Menjadi Salah Satu Suku Terbesar di Dunia
Sebagian besar anggota suku ini menetap di Pulau Jawa, yang menjadi salah satu pusat peradaban dan kebudayaan di Indonesia. Namun, pengaruh suku Jawa melampaui batas wilayah geografisnya, menjangkau hampir setiap aspek kehidupan masyarakat Indonesia.
BACA DETIL
DAFTAR MAILING LIST KAMI
Dapatkan informasi terbaru mengenai penawaran khusus, acara ataupun promosi spesial!
IKUTI KAMI